|
Semalam sekitar pukul 12.30 ketika sedang asik menghabiskan malam panjang dirumah setelah lelah beraktifitas dengan memaksa mata untuk menatap televisi, tiba-tiba suasana dikejutkan dengan padamnya listrik, benar-benar gelap…remang-remang pudar pun tidak, saya masih terduduk dengan menggenggam seonggok remote televisi dan sekilas langsung terbersit pikirkan “apakah seperti ini rasanya di alam kubur yang sepi, sunyi, gelap tidak ada yang menemani…, apakah di alam kubur hanya duduk termenung menyesali dosa, atau seperti apa?” dan saya berpikir bener juga surat Al Ashr “Demi Masa…Sesungguhnya Manusia Kerugian..” Sudah seharusnya saya mempersiapkan, karena tak tau hidup ini sampai kapan? kalau bukan kematian yang sudah pasti kedatangannya dan tak tentu waktunya.
Duduk berdiam saja dikegelapan gak selamanya saya bisa betah, saya cari senter dekat rak televisi dan saya mencari lentera yang selama ini biasa saya nyalakan ketika listrik padam, Selama ini setiap padam listrik sayalah yang selalu sibuk mencari lentera itu, mungkin dan sepertinya karena saya yang tidur paling larut malam.
Ya.. inilah lentera yang selama ini saya sulut ketika listrik padam, kenapa harus lentera itu? Saya memilih lentera itu karena secara teknis lilin yang menggunakan casing dengan lilin yang tidak menggunakan casing jelas berbeda, dengan casing sang lilin dapat menyala dan bertahan cukup lama karena sistem ventilasi pada lentera, beda halnya jika lilin berdiri sendiri tanpa casing, api nya mudah terkoyak angin yang dengan sedikit hembusan seketika bisa padam, dari segi keamanan lilin yang menggunakan casing atau lentera jauh lebih aman, ya... mungkin seperti halnya singa dalam sangkar mengaum-aum dibanding dengan singa yang mengaum-aum diluar sangkar, ya... itulah Api yang kecil menjadi kawan, besar menjadi lawan…hehe.
Alasan lain mengapa harus lentera… mungkin karena ketika listrik padam kegiatan saya cuma memperhatikan gerakan api dalam lentera yang seakan memberikan ketenangan dan melihat keindahan cahaya yang berpencar disekitar lentera itu seperti melihat harapan, apalagi dengan suasana yang sangat mendukung seperti dingin, sunyi, senyap, semakin syahdu menatap romantis sebuah lentera. Tapi gak tau kenapa setiap saya liat lentera ini saat listrik padam saya selalu inget Ayat Allah surat An Nuur :
Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya-Nya, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang banyak berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat(nya), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.
Ya… saya akui Allah memang pujangga Maha Hebat, kata perkata memberikan kesejukan dihati. “Cahaya di atas Cahaya…”disitu saya merasakan titik kulminasi dari sebuah esensi Allah yang Maha Besar…,
Dear lentera, teruslah terang, teruslah menghangatkan, genggam kuat harapan, untuk gapai masa depan.
|